Pesona Danau Di Atas Dan Danau Dibawah

Jumat, 11 Desember 2009



Sumatera Barat (Ranah Minang) memang dikenal sangat kaya dengan objek wisata alam yang tersebar pada semua daerah kabupaten maupun kota yang ada di Sumbar, salah satunya objek wisata Danau Diatas dan Danau Dibawah yang juga dikenal dengan nama Danau Kembar. Makanya, tidak mengherankan jika Sumatera Barat juga termasuk salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia

Di sebelah barat daya Kota Solok ada danau kembar Danau Diatas dan Danau Dibawah, yang jarak keduanya hanya beberapa ratus meter.
Jarak dari Bukittinggi adalah sekitar 130 kilometer dan diambil di sepanjang Danau Singkarak.

Setelah Solok, ambillah jalan ke Padang lalu belok kiri di Lubuk Selasih. Buah khas daerah tersebut, Markisa, djual di kios-kios kecil di tepi jalan. Jalan tersebut melalui pemandangan kebun teh.

Bila kita datang dari arah Lubuk Selasih, maka sekitar vsatu kilo menjelang sampai di rumah makan Bungo Tanjung, kita akan menyaksikan hamparan air Danau Diatas yang membiru. Alam yang sejuk, asri dan segar akan menyambut kedatangan kita untuk melepas ketegangan.

Begitu sampai di simpang masuk menuju danau tersebut, bila belok kanan kita akan langsung menuju Danau Diatas. Namun bila belok kiri, kita akan bertemu dengan Danau Dibawah. Dan di pinggiran Diatas, saat ini telah berdiri pula sebuah Convention Hall yang cukup presentatif. Kita tidak tahu, apakah gedung tersebut sudah dimanfaatkan atau belum, karena sekitar bangunan tersebut terlihat tidak terawat sama sekali dan terkesan kotor.

Tak jauh dari gedung convention hall itu, juga terlihat beberapa cottage yang juga terkesan tak pernah dihuni sama sekali. Tak diketahui secara pasti siapa pemilik cottage yang letaknya sangat strategis tersebut. Konon kabarnya cottage tersebut merupakan milik Pemkab Solok untuk disewakan kepada para pelancong. Namun kenapa cottage tersebut seperti tidak berpenghuni, tak diketahui secara pasti penyebabnya.
Bosan berada di Danau Diatas, anda bisa menuju arah Timur dan menjumpai kembarannya, yakni Danau Dibawah. Disini, panorama yang disajikan juga tak kalah indahnya dengan Danau Diatas. Sambil menikmati buah markisah yang banyak dijual orang di sepanjang jalan menjelang lokasi itu, membuat kita betah untuk berlama-lama berada disana.

Di dua danau ini, kita bisa menikmati tour keliling danau dengan menggunakan perahu sewa milik masyarakat setempat. Atau sebelum anda sampai di Danau Dibawah, anda bisa mampir sejenak di sebuah panorama untuk menikmati sejuknya semilir angin yang berhembus sambil makan siang pada beberapa lokasi yang sudah dibuat Pemkab Solok. Duh rasanya kita menemukan suasana penuh kedamaian.
Masih ingin lokasi lain? Anda bisa berkunjung ke Gunung Talang dari lokasi ini. Atau bila anda datang dari Padang, sesampai di Lubuk Selasih jalan terus, dan di Bukit Sileh

anda belok kanan. Namun untuk bisa mencapai danau ini, memang memerlukan waktu cukup lama.

Selain ada Danau Talang yang terletak di pinggang Gunung Talang dengan luas 1950 m x 1050 m dengan kedalaman 88m, ketinggian 1674 m di atas permukaan laut (dpl), juga ada Danau Kecil seluas 400 m x 100 m ketinggian 1707 m.Selain itu, di daerah Bukit Kili, juga terdapat mata air panas di kaki gunung api itu. Tempat-tempat itu belum dikembangkan untuk wisata atau untuk keperluan kesehatan dalam penyembuhan berbagai penyakit kulit. Padahal, daerah ini cukup punya potensi untuk dikembangkan sebagai sebuah lokasi wisata yang menjanjikan.


Read More..

Read more...

Bumi Sikerei Mentawai Dan Budaya Tato

Kamis, 10 Desember 2009


Hanya satu jalan singkat menuju Taileleo, desa kecil di pesisir pantai barat Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat. Yakni dengan menaiki perahu kecil melalui Terusan Monacchi yang menembus lautan di Muara Siberut. Dahulu, terusan ini berupa sebuah anak sungai kecil yang dikeruk Pastur Italia Monacchi, satu dekade silam. Perahu yang melalui terusan ini kerap kandas jika air laut sedang surut.

Suasana sepi tampak terasa saat memasuki Desa Taileleo. Deretan rumah-rumah tradisional orang Mentawai yang disebut Huma, diam membisu. Sebagian besar huma-huma ini kosong, ditinggalkan penghuninya merantau ke negeri orang. Rumah panggung ini berketinggian satu meter dari tanah, tiangnya kayu bulat, dinding dari kulit kayu, beratap rumbia, dan lantai pelepah sagu, tanpa jendela. Pada umumnya rumah itu berukuran panjang 10 meter, lebar 6 meter dan tinggi sampai bubungan 8 meter.

Tapi di sejumlah sudut Taileleo, masih banyak dijumpai masyarakat asli Mentawai yang tinggal di Huma. Meski tak lagi mengenakan cawat, mereka masih hidup sederhana dalam pranata sosial dan spiritual yang ketat dipimpin para Sikerei atau dukun. Guru besar Antropologi Universitas Leiden, Belanda, Profesor Reimar Schefold mengatakan kebudayaan Mentawai berakar pada zaman awal neolitikum Asia Tenggara. Suku yang tinggal di daerah terpencil ini lebih banyak menampakkan kemiripan dengan penduduk Kepulauan Hawaii atau Kepulauan Polinesia lainnya.

Masyarakat setempat terbiasa memakan sagu, yang diambil dari hutan dan diolah sendiri. Sebagian penduduk yang berjumlah 50 ribu jiwa itu masih tergolong terbelakang dalam tingkat ekonomi hingga pendidikan. Mereka mengusahakan ladang sagu, pisang, kelapa, ikan sungai/laut, beternak ayam dan babi. Kebiasaan berburu ke hutan dengan panah atau jerat tetap berlangsung. Siput mentah dan kepompong menjadi makanan kegemaran mereka. Di satu sudut wilayah, beberapa wanita mencari udang kecil di anak sungai yang keruh, sebagai sajian istimewa dalam makanan sehari-hari mereka.

Saat malam turun, seorang Sikerei tua menyalakan sebuah lampu petromaks untuk menerangi kegelapan. Dia juga menyiapkan sejumlah keperluan untuk upacara tradisionalnya, keesokan hari. Setelah cahaya mentari menyinari huma, Sikerei masuk ke hutan. Dia mencari sejumlah daun dan akar-akaran tertentu yang akan diramu menjadi omay atau racun panah untuk berburu. Campuran ramuan itu sangat khas dan mematikan sehingga tak ada orang Mentawai yang


sanggup membuat penawarnya.

Sekembali dari hutan, seorang Sikerei telah menunggu rekannya untuk membantu pembuatan omay. Akar-akaran itu segera dikuliti untuk diambil patinya dan diperas. Kemudian hasil perasan ini dicampur dengan ramuan dedaunan dan cabai merah. Dengan menggunakan helai-helai bulu ayam, omay dioleskan di ujung-ujung anak panah agar racun tidak mengenai kulitnya. Dengan penuh semangat, sang Sikerei kembali memasuki hutan untuk mencari binatang buruan. Dia membidikkan anak panah beracun berkali-kali. Tapi sayang, semua meleset dari sasaran hingga ia terpaksa kembali dengan hati kecewa.

Gagal dalam perburuan, Sikerei tetap berkegiatan lain: menggambar tato di tubuhnya.
Masyarakat setempat menganggap tato sebagai kebanggaan, dilukis hampir seluruh badan, dari dada, punggung sampai ke kaki. Ramuan tato dibuat dari perasan air sebatang tebu yang dicampur dengan bubuk hitam dari abu kayu perapian. Rajah tato Mentawai kuno dikenal sebagai satu tradisi seni rajah tato tertua di dunia. Sikerei menggunakan alat bantu yang disebut Paniktik.

Selain melambangkan status sosial, rajah tato di tubuh itu juga menandakan prestasi yang telah dicapai dalam hidup. Usai sebuah hari panjang bagi sang Sikerei. Hari esok masih menantinya, kembali pada siklus tradisi hidup yang kian monoton di tengah kumpulan huma yang makin senyap.

Sebagai ketua sebuah organisasi yang mengatasnama masyarakat adat, Urlik terkesan jauh dari sosok seorang Mentawai yang dikenal melalu foto-foto selama ini. Begitu juga dengan 265 peserta kongres, sebagian besar laki-laki, yang datang dari berbagai pelosok kampung di Kepulauan Mentawai.
Urlik dan mereka tak satupun yang memiliki tato penghias tubuh sebagai seorang Mentawai. Padahal tato yang oleh orang Mentawai disebut ‘titi', adalah bagian dari kebudayaan Mentawai yang penting. Setidaknya, ini telah bisa membuktikan bahwa tradisi tato sudah mulai ditinggalkan oleh orang Mentawai.
"Sejak tahun 1950-an, setelah pemerintah mewajibkan penduduk harus memeluk salah satu dari lima agama besar yang diakui pemerintah, orang Mentawai tak lagi menghias tubuhnya dengan tato, kecuali di beberapa kampung pedalaman di Siberut yang masih ada hingga kini," kata Urlik.
Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan adalah tiga pulau di mana orang Mentawai yang berdiam di sana tak lagi menato dirinya sejak 1950-an. Menurut Urlik, di Pulau Sipora yang orang Mentawainya kini sekitar 8.000 jiwa, yang masih memiliki tato tak lebih dari 10 orang. Tiga laki-laki dan selebihnya perempuan. Usia mereka di atas 70 tahun.
Hal yang sama juga terjadi di Pagai. Meski dihuni lebih 11.000 orang Mentawai, yang masih memiliki tato juga tak lebih dari 10 orang. Mereka juga berumur di atas 70 tahun.
"Bisa dipastikan, dalam 20 tahun ke depan tidak akan ada lagi orang Mentawai Sipora dan Pagai yang memiliki tato di tubuhnya," katanya.
Ada beberapa penyebab, menurut Urlik, kenapa tato hilang di Sipora dan Pagai. Pertama, ajaran agama yang melarang kepercayaan Arat Sabulungan, kepercayaan kepada roh-roh, dan menganggap tato bagian dari kepercayaan itu.
Kedua, upacara membuat tato diawali dengan rangkaian upacara lain yang lama (paling cepat enam bulan) dan banyak pantangan (larangan). Upacara ini disebut ‘punen'. Karena itu banyak orang Mentawai yang tidak ingin menjalankannya karena sangat berat.
Ketiga, ada rasa malu bagi orang Mentawai, terutama yang bersekolah ke luar daerah untuk menato dirinya, karena dianggap orang lain sebagai lambang keterbelakangan dan primitif. Kelompok orang Mentawai modern ini merasa lega terlepas dari budaya Arat Sabulungan.
Malu Karena Tidak 'Bulepak'
Protestan yang masuk ke Mentawai sejak 1901, menurut Urlik, merupakan agama yang paling keras melarang kepercayaan lama orang Mentawai dibanding Katolik yang masuk sejak 1955 dan Islam sejak 1952. Karena itu, Sipora dan Pagai yang mayoritas memeluk agama Protestan lebih cepat hilang kebudayaannya, termasuk tradisi tato.
"Saya masih ingat waktu kecil ada orang Mentawai bertato yang diusir dari jemaat oleh pendeta," kata Urlik yang juga pendeta GKPM (Gereja Kristen Protestan Mentawai) Saurenuk, Sipora.
Untuk bisa menato diri, suatu suku di Sipora harus melakukan ‘punen' yang paling cepat menghabiskan waktu enam bulan. Punen dimulai dengan mendirikan uma (rumah adat khas Mentawai) dengan memotong sejumlah babi dan mengikuti berbagai pantangan. Di antaranya tidak boleh melakukan seks dengan istri, tidak boleh memandang wanita, tidak boleh makan dan minum sebelum acara makan dan minum bersama, dan sebagainya.
"Acara puncak punen adalah dengan melakukan perjalanan ke Pulau Siberut sebagai asal orang Mentawai, acara itu disebut ‘Bulepak', ke sana naik sampan sampai 40 orang, jika sudah kembali dengan selamat menempuh ombak yang besar dari Siberut dengan membawa manik-manik khas Siberut, maka semua warga suku sudah boleh menato diri," kata Urlik.
Upacara seperti inilah yang berat dilakukan orang Sipora. Menurut Urlik, acara ‘Bulepak' terakhir yang dilakuan orang Sipora pada 1950-an. Setelah itu tidak ada lagi orang Mentawai di Sipora yang melakukan itu. Akibatnya, mereka tidak berani menato diri, karena syaratnya tidak ada.
"Mereka malu menato diri karena tidak pernah ‘Bulepak', setelah itu tak ada lagi orang Sipora yang bertato, hal yang sama juga terjadi di Pagai," katanya.
Ditato Itu Sakit
Di Siberut, pulau terbesar di Kepulauan Mentawai dan merupakan pusat dan asal kebudayaan Mentawai, masih ada sejumlah kampung pedalaman yang masih menggunakan tato. Di kampung-kampung di Sarereiket, Ugai, Matotonan, Madobak, Simatalu, Sakudei, dan Simalegi penduduknya masih memakai tato.
Meski di beberapa kampung para pemuda dan gadis yang mulai dewasa tetap ditato tubuhnya, namun yang meninggalkan tradisi tato jauh lebih banyak. Umumnya mereka yang sudah berinteraksi dengan dua modern, seperti melanjutkan pendidikan ke SMP dan SMA yang hanya terletak di ibukota kecamatan atau ke Padang.
"Umumnya kampung-kampung yang tradisi tatonya masih ada adalah yang menganut Katolik, sebab Katolik lebih longgar dan tidak sekeras Protestan melarang mereka, tetapi anak-anak muda yang bersekolah tak lagi mau ditato," kata Urlik.
Tradisi bertato memang mulai ditinggalkan di Mentawai, seiring dengan pangaruh dunia luar. Jika dulu orang yang bertato dianggap sebagai lambang orang yang sehat dan kuat di Mentawai, kini anggapan itu telah beralih sebagai orang yang terbelakang.
"Ditato itu sakit dan lagian lambang primitif," kata Gerson Saleleubaja, 24 tahun, pemuda asal Maileppet, Siberut Selatan, yang kini menjadi jurnalis di Tabloid Puailiggoubat, sebuah koran lokal di Mentawai.
Terlepas dari itu, sebenarnya tato tradisional Mentawai adalah khazanah dunia. Ady Rosa, peneliti tato Indonesia dari Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Padang, menyimpulkan bahwa tato Mentawai termasuk tato tertua di dunia.
Sayang, belum banyak yang meneliti jenis dan makna tato di Mentawai. Ady Rosa sendiri baru meneliti penggunaan tato pada orang Mentawai di sejumlah kampung di Siberut dan belum meneliti tato di Sipora dan Pagai. Padahal, menurut Urlik, tato Sipora dan Pagai memiliki perbedaan tertentu dari tato Siberut.
Misalnya, di Sipora ada tato tiga garis lengkung di pipi dan satu garis lurus dari dagu hingga leher. Tato-tato ini belum diteliti dan akan segera hilang karena pemakainya yang sudah uzur.
160 Motif Tato
Tato oleh orang Mentawai tak hanya berfungsi untuk keindahan tubuh, tetapi juga lambang yang menunjukkan posisi atau derajat orang yang memakainya.
Ady Rosa, peneliti tato dari Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Padang menyimpulkan, seni tato yang oleh orang Mentawai disebut ‘titi' mulai dikenal di Mentawai sejak orang Mentawai datang antara tahun 1500 sampai 500 Sebelum Masehi. Mereka adalah suku bangsa protomelayu yang datang dari Yunan, kemudian berbaur dengan budaya Dongson.
"Tato di Siberut sudah jauh sebelum bangsa Mesir mulai membuat tato sekitar tahun 1300 SM, jadi bukan tato Mesir yang tertua di dunia, tapi tato Mentawai," katanya.
Ady Rosa dalam laporan hasil penelitiannya berjudul ‘Fungsi dan Makna Tato Mentawai' (2000) menyimpulkan, ada tiga fungsi tato bagi orang Mentawai. Pertama, sebagai tanda kenal wilayah dan kesukuan yang tergambar lewat tato utama. Ini semacam kartu tanda penduduk (KTP).
Kedua, sebagai status sosial dan profesi. Motif yang digambarkan tato ini menjelaskan apa profesi si pemakai, misalnya sikerei (tabib dan dukun), pemburu binatang, atau orang awam. Ketiga, sebagai hiasan tubuh atau keindahan. Ini tergambar lewat mutu dan kekuatan ekspresi si pembuat tato (disebut ‘sipatiti') melalui gambar-gambar yang indah.
Menurt Ady, ada sekitar 160 motif tato yang ada di Siberut. Masing-masing berbeda satu sama lain. Setiap orang Mentawai, baik laki-laki maupun perempuan bisa memakai belasan tato di sekujur tubuhnya.
Pembuatan tato sendiri melewati proses ritual, karena bagian dari kepercayaan Arat Sabulungan (keparcayaan kepada roh-roh). Bahan-bahan dan alat yang digunakan didapat dari alam sekitarnya. Hanya jarum yang digunakan untuk perajah yang merupakan besi dari luar. Sebelum ada jarum, alat pentatotan yang dipakai adalah sejenis kayu karai, tumbuhan asli Mentawai, yang bagian ujungnya diruncingkan.
Sipatiti (pembuat tato) adalah seorang lelaki dan tidak boleh perempuan. Sebelum pembuatan tato harus diadakan ‘punen patiti' (upacara pentatoan). Upacara dipimpin oleh seorang sikerei. Upacara yang dilakukan dengan menyembelih beberapa ekor babi ini harus dibiayai oleh orang yang ditato dan hanya dilakukan pada awal pentatoan.
Membuat tato di Mentawai dilakukan tiga tahap. Tahap pertama pada saat seseorang berusia 11-12 tahun, dilakukan pentatoan di bagian pangkal lengan. Tahap kedua usia 18-19 tahun dengan menato bagian paha. Tahap ketiga setelah dewasa.
Proses pembuatan tato memakan waktu dan diulang-ulang. Tentu saja menimbulkan rasa sakit dan bahkan menyebabkan demam.

Read More..

Read more...

Jam Gadang

Rabu, 09 Desember 2009


Jam Gadang adalah sebutan bagi sebuah menara jam yang terletak di jantung Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat. Jam Gadang adalah sebutan yang diberikan masyarakat Minangkabau kepada bangunan menara jam itu, karena memang menara itu mempunyai jam yang “gadang”, atau “jam yang besar” (jam gadang=jam besar; “gadang” berarti besar dalam bahasa Minangkabau).

Sedemikian fenomenalnya bangunan menara jam bernama Jam Gadang itu pada waktu dibangun, sehingga sejak berdirinya Jam Gadang telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang dijadikan penanda atau markah tanah Kota Bukittinggi dan juga sebagai salah satu ikon provinsi Sumatera Barat.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur (Sekretaris Kota) Bukittinggi pada masa Pemerintahan Hindia Belanda dulu. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun.

Denah dasar (bangunan tapak berikut tangga yang menghadap ke arah Pasar Atas) dari Jam Gadang ini adalah 13×4 meter, sedangkan tingginya 26 meter.

Jam Gadang ini bergerak secara mekanik dan terdiri dari empat buah jam/empat muka jam yang menghadap ke empat arah penjuru mata angin dengan setiap muka jam berdiameter 80 cm.

Menara jam ini telah mengalami beberapa kali perubahan bentuk pada bagian puncaknya. Pada awalnya puncak menara jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Saat masuk menjajah Indonesia, pemerintahan pendudukan Jepang mengubah puncak itu menjadi berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.

Pembangunan Jam Gadang ini konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Namun hal itu terbayar dengan terkenalnya Jam Gadang ini sebagai markah tanah yang sekaligus menjadi lambang atau ikon Kota Bukittinggi. Jam Gadang juga ditetapkan sebagai titik nol Kota Bukittinggi.


Ada satu keunikan dari angka-angka Romawi pada muka Jam Gadang ini. Bila penulisan angka Romawi biasanya mencantumkan simbol “IV” untuk melambangkan angka empat romawi, maka Jam Gadang ini bertuliskan angka empat romawi dengan simbol “IIII” (umumnya IV).
Artikel Lain

Read More..

Read more...

Panorama Indah Danau Maninjau


Danau Maninjau adalah sebuah danau di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau ini terletak sekitar 140 kilometer sebelah utara Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, 36 kilometer dari Bukittinggi, 27 kilometer dari Lubuk Basung, ibukota Kabupaten Agam.

Maninjau yang merupakan danau vulkanik ini berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Luas Maninjau sekitar 99,5 km² dan memiliki kedalaman maksimum 495 meter. Cekungannya terbentuk karena letusan gunung yang bernama Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Menurut legenda di Ranah Minang, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan.

Danau Maninjau merupakan sumber air untuk sungai bernama Batang Antokan. Di salah satu bagian danau yang merupakan hulu dari Batang Antokan terdapat PLTA Maninjau. Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 km mulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau.

Danau ini tercatat sebagai danau terluas kesebelas di Indonesia. Sedangkan di Sumatera Barat, Maninjau merupakan danau terluas kedua setelah Danau Singkarak yang memiliki luas 129,69 km² yang berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Di sekitar Danau Maninjau terdapat fasilitas wisata, seperti Hotel(Maninjau Indah Hotel, Pasir Panjang Permai) serta penginapan dan restoran.

Danau Maninjau memiliki resor berbintang lima yang berada di puncak bukit. Dengan pemandangan yang menyenangkan dan menenangkan hati, menginap di daerah Maninjau akan menjadi pengalaman yang mengesankan.

Desa Maninjau terletak di samping danau. Buya HAMKA, salah satu sastrawan terkenal di Indonesia, dilahirkan di sini. HAMKA menulis buku yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang fenomenal itu. Figur terkenal lainnya yang dilahirkan di sini adalah Rangkayo Rasuna Said, salah satu pahlawan nasional di Indonesianya. Nama perempuan ini diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta.


Cara Mencapai Daerah ini
Terletak 35 kilometer dari kota Bukittinggi, Anda dapat menyewa mobil untuk mencapai daerah Danau Maninjau. Angkutan umum juga banyak tersedia.

Tempat Menginap
Berbagai penginapan atau hotel di wilayah Bukittinggi. Anda juga dapat menginap di resor Danau Maninjau.

Berkeliling
Dengan menggunakan mobil atau angkutan umum, Anda dapat menikmati pemandangan yang spektakuler.

Tempat Bersantap
Anda dapat memuaskan lapar dan dahaga di restoran-restoran terdekat, atau dapat juga di daerah hotel atau penginapan. Makanan Sumatera Barat terkenal pedas, jadi pandai-pandai lah memilih.

Buah Tangan
Songket, atau aneka produk terbuat dari songket khas Sumatera Barat (berupa sandal, sepatu, tas, tempat koin, dan lain sebagainya), juga pernak-pernik unik lainnya tersedia. Anda juga dapat membeli oleh-oleh berupa makanan kering khas Sumatera Barat seperti keripik singkong pedas.

Yang Dapat Anda Lihat Atau Lakukan
Selain mengagumi pemandangan yang ada, Anda dapat berekreasi di danau, walaupun fasilitas terbatas. Sayangnya, karena di daerah ini busana minim/renang yang ketat dianggap kurang sopan, maka bagi yang ingin berenang tidak dapat melakukannya di Danau Maninjau. Anda dapat berenang di resor atau berbagai hotel yang menyediakan fasilitas kolam renang. Di resor Maninjau Anda juga dapat mengunjungi fitness center dan jogging track yang tersedia.

Tips
Hormati penduduk setempat. Berpakaianlah secara kasual namun sopan. Untuk menikmati Danau Maninjau sepenuhnya, menginaplah di Resor Danau Maninjau.

Read More..

Read more...

Mesjid Tertua Di Kota Padang


MASJID Ganting yang terletak di bagian selatan Kota Padang merupakan masjid tertua di Kota Padang. Masjid yang mulai dibangun pada 1805 dan selesai hingga bentuk seperti sekarang pada 1910 ini, juga termasuk salah satu masjid tua di Indonesia dan menjadi pusat syiar Islam di Padang dan kota-kota pesisir barat Sumatera.

Desain Spanyol dan Timur Tengah mendominasi bagian depan bangunan. Tembok yang tebal tanpa atap di bagian depannya sekilas mengingatkan kita kepada benteng Spanyol. Ditambah gerbang-gerbang tanpa daun pintu mengesankan gerbang benteng. Hanya atap mirip pagoda yang muncul di bagian tengah, ditambah dua menara kiri kanan, memunculkan ciri khas arsitektur Cina dan surau tradisional di Ranah Minang.

Di tengah tembok depan terdapat dua pasang pilar yang sepintas mengapit pintu utama. Padahal ini bukan pintu masuk. Pintu masuk terdapat di kiri-kanan pilar. Bangunan berpilar dua kembar ini menjadi penghias. Apalagi ditambah dengan gaya atap yang dihiasi lima bulatan mirip granat tangan.

Dinding masjid bercat biru muda dengan akses garis-garis biru ini terlihat masih kokoh, meski sudah berusia lebih 200 tahun. Padahal bangunan utama masjid ini hanya dibuat dari bata merah dan batu kapur.

Di balik pintu-pintu dinding mirip benteng itu terdapat teras penghubung di sekeliling bangunan utama masjid dengan lebar 4 meter. Teras ini ditopang tiang kembar. Lantainya dari tegel bermotif geometris berwarna abu-abu. Tegel ini didatangkan dari Belanda pada pada 1900. Semula lantai ini hanya susunan batu kali yang diplester dengan tanah liat karena semen belum ada.

Tegel langsung dipesan dari Belanda melalui perusahaan NV Jacobson Van Der Berg, lengkap dengan semen bertong dan tenaga ahli. Pemasangan tegel selesai pada 1910. Tak kalah andilnya dalam pembangunan adalah seorang kapten militer Belanda dari Corps Genie yang juga Komandan Genie Sumatra Barat dan Tapanuli yang kantornya terletak tak jauh dari mesjid itu.

Dari teras memasuki ruangan utama terdapat pintu-pintu dan jendela-jendela besar mirip rumah sakit atau bangunan kantor di Indonesia peninggalan Kolonial Belanda dengan setengah kaca di bagian atasnya. Bedanya hanya ventilasi setengah lingkaran di atas jendela dan pintu yang dihiasi lubang-lubang bermotif.


Pintu Sorga yang Delapan

Yang menarik dari pintu ini adalah jumlahnya yang delapan buah. Ini mengartikan orang muslim memasuki masjid dengan niat memasuki pintu sorga yang delapan.

Ruang utama sendiri luasnya 30 meter X 30 meter. Meski tidak terlalu luas di ruangan ini berjejer 25 tiang segi enam berdiameter 50 cm. Masing-masing tiang diberi nama dengan kaligrafi dengan nama masing-masing satu nama nabi dan rasul. Mulai dari Adam hingga Muhammad.

Tiang-tiang ini berfungsi sebagai penyangga balok-balok kayu untuk penahan lantai bagian atas bangunan kayu yang mirip pagoda. Tiang-tiang yang juga terbuat dari bata merah dengan bahan perekat kapur dicampur putih telur ini sama sekali tidak menggunakan tulang besi. Bahkan balok-balok kayu hanya diletakkan di atasnya tanpa ikatan.

Gempa 6,7 Scala Richter yang mengguncang Padang pada 10 April 2005 yang bersumber dari Kepulauan Mentawai meretakkan 15 tiang ini, bahkan satu di antaranya terjatuh sebagian puncaknya.

Balok-balok kayu yang disangga tiang berukuran 25 cm X 25 cm dengan masing-masing panjang 6 meter. Kayu jenis rasak dan besi ini sekarang hampir tidak bisa ditemukan lagi di Sumatra. Dulu kayu ini didatangkan dari Indrapura (Pesisir Selatan) dan Pasaman yang dibawa dengan biduk ke Padang.

Lantai ruangan utama ini dihiasi ubin bermotif yang masih asli dan dulunya didatangkan dari Belanda. Ubin segi lima ini bermotif kembang hitam dengan bulatan merah tua di tengahnya. Kalaupun ada tambahan keramik baru, itu adalah keramik putih untuk dinding dan tiang-tiang yang dipasang.

Penyambung Imam Sumbangan Kapten Cina

Sementara itu atap masjid adalah jenis atap tumpeng atau segi tiga. Dulunya tumpeng bersusun 4 dan mengerucut diatasnya. Namun kemudian diubah dan ditambah dengan dua bangunan menyerupai rumah angin berdesain Cina.

Pada lantai tiga dan empat dibagian atap dibuat ruangan yang dikelilingi kisi-kisi angin semacam jalusi. Pada puncak atap masjid terdapat gobah yang menyerupai nenas ditambah dengan simbol bulan bintang. Bagian ini adalah desain bergaya Cina.

Atapnya terdiri dari atap seng yang berukuran bwg 20, tetapi belum pernah diganti.Lotengnya yang pertama terdiri dari papan tarahan, tetapi karena sudah lapuk, diganti enternit.

Dulunya pada tingkat dua yang berlantai papan ini dipergunakan oleh santri masjid untuk bermain rebana tiap Ramadan hingga sahur, sementara yang lainya bertadarus di lantai satu.

Rangka atap atau kuda-kudanya terdiri dari sistem 'rasuak palanca' atau pahatan tembus.

Antara tingkatan atap bawah dengan tingkat atas diberi dinding angin yang berjarak setinggi 80 cm. Dinding angin ini ditutup dengan kayu berukir. Kayu berukir ini dikerjakan dengan corak bunga yang sama tetapi di pahat .

Bangunan di lantai dua ini juga sering digunakan untuk menggelar rapat. Di bagian tengah ruangan masjid dibangun tempat penyambung iman, karena saat itu ruangan masjid yang luasnya 900 meter persegi itu dirasakan terlalu luas sehingga makmum tidak bisa mendengarkan imam. Dengan dibangun tempat penyambung imam maka kesulitan yang dialami para makmum untuk mendengar suara imam dapat diatasi.

Tempat penyambung imam itu dibangun di tengah ruangan masjid sekaligus dapat digunakan untuk tangga naik ke puncak mesjid. Dana untuk tempat penyambung imam ini disumbangkan oleh Kapten Cina Cap Gho Meh yang juga seorang Cina terkaya di Padang saat itu.

Bahkan tempat penyambung imam ini diukir langsung oleh pengukir Cina yang ada di Padang. Sayangnya pada 1978 tempat penyambung imam ini dibongkar pengurus masjid saat itu karena ada yang lapuk dan dianggap mengganggu.

Mesjid Pertama di Padang

Masjid ganting merupakan masjid pertama di Kota Padang, karena sebelumnya waktu itu yang ada hanya surau-surau kecil. Pembangunan masjid ini dilakukan tiga periode selama lebih satu abad.

Cikal bakal masjid ini adalah sebuah surau dari kayu yang terletak tidak di lokasi itu pada 1700-an. Surau ini dibongkar karena terkena proyek jalan ke Emmahaven (Pelabuhan Teluk Bayur) yang dibuat Kolonial Belanda.

Pada 1805 tiga pimpinan setempat, masing-masing seorang ulama, saudagar, dan pimpinan kampung di Ganting memusyawarahkan pendirian mesjid. Mereka meminta bantuan saudagar-saudagar di Pasar Gadang (Padang Kota Lama) dan ulama tak hanya di Sumatra Barat, tapi hingga ke Sumatera Barat dan Aceh.

Bantuan datang tak hanya dalam bentuk uang, tapi juga tenaga tukang ahli dari pedalaman Sumatra Barat (Minangkabau). Selama lima tahun, masjid ini siap pada 1810 dengan bahan kayu, batu kali, bata, dengan pengikat kapur dicampur putih telur. Bangunan yang dibangun bangunan utama sekarang ini.

Periode kedua pada 1900 hingga 1910 adalah periode pemasangan tegel yang didatangkan dari Belanda dengan semen, serta pembuatan bagian depan masjid yang mirip dengan benteng spanyol. Dalam pembangunan ini bantuan tenaga juga datang dari Komandan Genie (Militer Belanda). Periode ketiga pembuatan menara kiri-kanan masjid hingga siap pada 1967.

Dalam perjalanan sejarah Kota Padang, masjid turut memberikan andil. Selain lokasi pengembangan agama Islam di Sumatra, juga pernah dijadikan lokasi Jambore Hisbul Wathan se-Indonesai pada 1932, dijadikan lokasi rapat pemuda pejuang di zaman proklamasi dan revolusi 1945. Pada 1942, Ir. Soekarno (Presiden Pertama) pernah menginap di rumah di belakang masjid dan selalu salat di masjid ini.

Hingga kini Masjid Raya Ganting sering dikunjungi pejabat dan tamu negara beragama Islam jika berkunjung ke Padang dan objek wisata sejarah bagi wisatawan asing.

Read More..

Read more...

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP